Jl. Ki Mangunsarkoro No. 6, Kota Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
024 - 8316315, 8450651
(024) 8414811
082134525006
LOGIN PELANGGAN
BERITA POPULER

Sertifikasi Industri Hijau akan Digratiskan

01 Nov 2016 10:10:00

Sumber : Website Kementerian Perindustrian dari Media Indonesia

Kementerian Perindustrian mendorong pola industri hijau sebagai upaya mendongkrak ....

Kebijakan Industri Nasional

24 Mei 2017 11:30:55

Visi pembangunan Industri Nasional sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional ....

BBTPPI menyelenggarakan Kegiatan Sosialisasi ISO 9001:2015

16 Agu 2016 13:00:00

Pada tahun 2015, ISO melakukan revisi beberapa standard manajemen atas persyaratan yang ditetapkan. Perkembangan terhadap pengelolaan resiko atas ....

Abstrak Penelitian Tahun 2017

29 Agu 2018 09:05:44

PEMBUATAN BIOKATODA UNTUK OPTIMALISASI REDUKSI KARBON DIOKSIDA MENJADI SENYAWA ORGANIK SECARA BIOELEKTROKIMIA

 

Abstrak

 

Karbon dioksidaI (CO2) adalah salah satu gas rumah kaca penyebab pemanasan global. Karbon dioksida bisa direduksi menjadi asam-asam organik dengan menggunakan mikroba sebagai biokatalis, serta dengan mengaplikasikan energi listrik. Sistem konvigurasi ini dikenal dengan nama sistem bioelektrokimia. Reaktor BES terdiri dari ruang anoda dan ruang katoda yang di pisahkan dengan membran. Arang tempurung kelapa potensial digunakan sebagai sumber karbon pada material elektroda. Graphitasi-aktivasi secara simultan telah berhasil sebagai metode yang dapat merubah karbon menjadi bersifat kristal dan nanoporous dengan luas permukaan 6 kali lebih besar dari raw materialnya. Adapun kultur bakteri diperoleh dari isolasi slude IPAL anaerobik yang ditumbuhkan pada media dan dilakukan pemanasan pada suhu 95o C sehingga diperoleh jenis mikroba asetogen. Kultur kemudian diinokulasi dalam reaktor BES dan diumpankan elektron dari potentiostate pada voltase -0,5 s/d -1,0 V. Reaktor BES telah mampu memproduksi senyawa organik berupa butirat 250 mg/L yang mekanisme terbentuknya melalui asetat dan propionat untuk kemudian mengalami reaksi lanjut oleh mikroba bersama CO2. Penambahan Na2S berdampak positif terhadap meningkatnya respon arus dan produksi asam-asam organic. Tambahan sulfat meningkatkan pertumbuhan SRB (sulfate reducing bacteria) yang elektroaktif yang dapat membantu transfer elektron dari katoda untuk digunakan oleh HA (hydrogenotropic acetogenic).


 

PEMANFAATAN BIOMASSA MICROALGAE SEBAGAI SUMBER BAHAN BAKU INDUSTRI MENGGUNAKAN OZONISASI

Rame, Muryati, Nilawati, Silvy Djayanti, Novarina Irnaning Handayani, Agus Purwanto

Abstrak

 

Spirulina adalah bahan pangan organik dari microalgae sel tunggal yang hidup di air dikenal sebagai sumber nutrisi nabati terlengkap yang kaya akan asam amino esensial, vitamin, mineral, dan karotenoid. Spirulina telah diolah dalam berbagai bentuk, mulai dari suplemen makanan, obat-obatan herbal, produk kosmetik seperti masker wajah, dan bahan tambahan pangan. Mayoritas spirulina yang beredar di Tanah Air masih diimpor dari luar negeri, yaitu China, India, Malaysia, Taiwan, Thailand, dan Amerika Serikat. Prospek industri spirulina sangat bagus karena PBB dan Organisasi Pangan Dunia sudah merekomendasikan spirulina sebagai bahan pangan.

SNI ISO 22000:2009 Sistem Manajemen Keamanan Pangan dan regulasi produk farmasi mewajibkan IKM Mikroalga menerapkan program pengendalian resiko masuknya kontaminasi biologi pada produk. IKM Mikroalga masih mengggunakan lampu UV terintegrasi mixer untuk proses sterilisasi. Proses sterilisasi tunggal menggunakan lampu UV kurang efisien dalam penghilangan cemaran mikroba dan tidak dianjurkan untuk sterilisasi produk pangan.

Proses sterilisasi produk Spirulina melalui reaksi ozonasi dilakukan dengan cara memberikan gas ozon dengan laju alir tetap 2 Liter/menit, dan konsentrasi gas ozon ± 83 ppm/menit. Gas ozon dihasilkan dari pembangkit ozon dengan tegangan 30 Kv adalah 5 gr/jam. Bubuk Spirulina dalam reaktor tertutup dengan volume isi

Teknologi ozonisasi adalah alternatif solusi yang murah dan efisien untuk sterilisasi produk Spirulina tanpa merusak kandungan bioaktifnya. Proses sterilisasi ini dapat menghilangkan cemaran mikroba dari Spirulina tanpa merusak kandungan bioaktifnya. Jika unit sterilasasi ozonisasi diterapkan untuk mengolah Spirulina maka dapat digunakan sebagai bahan farmasi grade.


 

TRANSFORMASI LIMBAH CAIR WEIGHT REDUCE INDUSTRI TEKSTIL MENJADI ASAM TEREPHTHALATE DAN KOMPONEN MONOMER LAIN SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI

Bekti Marlena, Misbachul Moenir, Farida  Chrisnaningtyas, Agung Budiarto, Sartamtomo, Ikha Rasti Juliasari

Abstrak

 

Pada proses pembuatan kain poliester, dihasilkan limbah cair dari proses basah seperti desizing, weight reduce, dyeing, printing, dan lainnya. Pada proses weight reduce terjadi hidrolisa poliester oleh larutan alkali.

Saat ini air limbah weight reduce diolah bersama-sama dengan air limbah dari proses lainnya dengan sistem fisika-kimia dilanjutkan dengan lumpur aktif. Namun demikian, konsentrasi air limbah weight reduce yang cukup tinggi sering menyebabkan shock loading pada pengolahan lumpur aktif sehingga air limbah terolah sering melebihi baku mutu yang disyaratkan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengubah air limbah weight reduce menjadi asam tereftalat dan etilen glicol yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri sekaligus mengurangi beban cemaran air limbah industri tekstil.

Proses yang digunakan untuk mengolah air limbah weight reduce adalah secara kimia dengan mereaksikan dengan asam kuat. Endapan yang terbentuk kemudian dikeringkan sebagai asam tereftalat sedangkan filtrat didestilasi untuk mendapatkan etilen glycol dan garam

Dengan pengolahan air limbah weight reduce akan diperoleh manfaat berupa bahan baku industri yang berupa asam tereftalat dan etilen glycol serta mengurangi pencemaran air.


 

INOVASI PRODUKSIMEMBRAN SELULOSA ASETAT DARI AVAL TEKSTIL SPINNING

Agung Budiarto, Januar Arif Fathurrakhman, Syarifa Arum Kusumastuti, ST, Silvy Djayanti, Agus Purwanto, ST

Abstrak 

 

Membran selulosa asetat merupakan salah satu metode pemisahan yang banyak digunakan. Penelitian produksi membran selulosa asetat dari limbah aval dilatarbelakangi oleh permasalahan menumpuknya limbah padat yang dihasilkan industri tekstil spinning. Selain ketersediaan bahan baku yang mudah, membran selulosa asetat memiliki keunggulan selektivitasnya yang baik, terbuat dari bahan yang ramah lingkungan dan biodegradable.

Dari beberapa penelitian terdahulu, membran selulosa asetat dibuat dari bahan-bahan yang mengandung selulosa yang terdapat di alam di antaranya adalah enceng gondok, pulp kayu, serat nanas dan sebagainya. Salah satu sumber selulosa terbanyak di alam adalah kapas. Kapas banyak digunakan pada industri tekstil. Pada industri tekstil spinning, selain menjadi produk, dihasilkan juga hasil samping yang tidak terolah atau merupakan sisa dari proses pemotongan atau penghilangan serat pada kain. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk memproduksi membran selulosa asetat sekaligus mengurangi timbunan limbah pada industri tekstil.

Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu : isolasi selulosa dari bahan baku, reaksi asetilasi selulosa menjadi selulosa asetat, pembuatan membran secara inversi fasa dengan mesin casting, dan uji karakteristik membran. Pada tahapan isolasi selulosa, digunakan yang berfungsi sebagai oksidator sekaligus bleaching agent dengan variasi konsentrasi yaitu 3%, 4,5% dan 6%, serta NaOH untuk penghilangan lignin dan hemiselulosa. Proses dilanjutkan dengan asetilasi selulosa menggunakan asam asetat, asetat anhidrid dan katalis asam kuat. Setelah selulosa asetat terbentuk, dilakukan pembuatan larutan dope membran dengan campuran selulosa asetat, aseton dan poli etilen glikol. Berikutnya larutan siap dicetak dengan mesin casting dan didiamkan dalam bak koagulasi untuk menghilangkan sisa pelarut.

Dari hasil analisis bahan baku didapat kadar selulosa sebesar 51,26; 50,46 dan 57,03%. Dari tahapan isolasi, didapat yield terbanyak adalah pada konsentrasi NaClO3 % sebesar 78,24% sedangkan kadar selulosa tertinggi didapat dari konsentrasi NaClO 6 % yaitu sebesar 40,09%. Hal ini didukung dengan hasil spectra infra merah adanya ikatan OH dari ketiga sampel tersebut menunjukkan adanya selulosa.

Dan dari hasil analisis spektra infra merah untuk selulosa asetat, dapat dilihat bahwa adanya gugus C-O asetil menunjukkan karakteristik khas dari selulosa asetat. Selain itu juga masih terdapat sisa lignin dalam selulosa asetat.


 

OPTIMALISASI PENGOLAHAN LIMBAH ORGANIK BERKADAR GARAM TINGGI DENGAN TEKNOLOGI LUMPUR AKTIF YANG DIPERKAYA DENGAN KONSORSIUM HALOTOLERANT BACTERIA DI INDUSTRI PENGOLAHAN MAKANAN (STUDI KASUS DI INDUSTRI KACANG GARING)

Rustiana Yuliasni, Nanik Indah Setianingsih, Nani Harihastuti, Marihati, Kukuh Aryo Wicaksono

Abstrak 

 

Telah dilakukan penelitian untuk mengolah air limbah industri kacang garing berkadar garam tinggi dengan teknologi lumpur aktif dengan penambahan konsorsium mikroba halotolerant untuk meningkatkan kinerja dari sistem lumpur aktifsehingga diharapkan effluent limbah akan  memenuhi baku mutu, serta mendapatkan kondisi operasi proses dan perhitungan desain pengolahan limbah secara aerobik lumpur aktif  dan penurunan nilai parameter cemaran yang optimal.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan dua reaktor lumpur aktif berbentuk kolam oksidasi dengan volume reaktor 50 L.  Reaktor R1 adalah reaktor lumpur aktif yang hanya berisi lumpur indigenous yang berasal dari inokulasi di industry kacang garing, sedangkan reaktor R2 adalah reaktor lumpur aktif dengan penambahan gabungan mikroba indigenous dan inokulum halotolerant. Penelitian berjalan secara kontinyu selama 77 hari.  COD feeding inlet diatur sebesar 1000, 2000, 3000 mg/L, dan konsentrasi klorida sebesar 1500; 2000; 4000 mg/L.  Debit inlet diatur antara  12,96L/hari - 76 L/hari. pH, konsentrasi klorida setelah keluar dari reaktor, konsentrasi COD outlet, SV30 dianalisis setiap hari.

Hasil penelitian menunjukan bahwa kinerja lumpur aktif meningkat dengan penambahan mikroba halotolerant dari segi F/M ratio. Kedua reaktor mempunyai kemampuan penghilangan bahan organic yang sama, namun dengan penambahan halotolerant, kebutuhan mikroorganisme lebih sedikit. Kandungan mikro yang lebih sedikit di reaktor lumpur aktif membuat kebutuhan untuk nutrient lebih sedikit. Secara umum kualitas effluent sudah memenuhi baku mutu, kecuali DHL. DHL yang tinggi dikarenakan kadar garam yang tinggi. Penambahan konsorsium mikroba halotolerant tidak menurunkan kadar garam di dalam air limbah. Didapatkan kondisi operasi pengolahan sebagai berikut: OLR = 0.05 kg COD/m3.hari, MLVSS = 1.3 g/L, HRT = 9 jam, F/M ratio = 1.5 kg COD/kg MLVSS,  dan SRT = 30-


 

PENENTUAN KONSENTRASI LOGAM DI UDARA AMBIEN KAWASAN INDUSTRI PENGECORAN LOGAM MENGGUNAKAN PASSIVE SAMPLER

Ikha Rasti Juliasari, Januar Fatkhurrahman

Abstrak

 

Industri pengecoran logam sebagai salah satu industri penyedia bahan baku bagi industri lain mengalami perkembangan cukup signifikan dalam industrialisasi. Perkembangan teknologi pengecoran logam juga berkembang dimulai dengan penggunaan kupola, Blast Furnace dan tungku Electric Arc Furnace (EAF). Industri pengecoran  logam umumnya menggunakan scrap atau besi rongsok sebagai bahan bakar yang berpotensi memberikan cemaran logam di udara.

Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan metode uji pengambilan sampel logam di udara ambien secara passive sampler, yang  dikorelasikan dengan metode pengambilan active sampler. Penggunaan active sampler yaitu dengan menggunakan personal sampler. Pengembangan metode uji ini dilakukan untuk analisa logam-logam di udara ambien Pb (Timbal), Fe (Besi), Cd (Cadmium), Cr (Khrom), Cu (Tembaga), Zn (Seng), Hg (Merkuri) dengan sampel yang berasal dari lingkungan industri pengecoran logam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter cemaran di industri pengecoran logam adalah partikulat, logam Cd, Fe, Co dan Hg. Analisis varian (ANOVA) secara statistik uji F untuk konsentrasi tersebut dengan metode passive sampler dan active sampler tidak terdapat beda nyata.