Jl. Ki Mangunsarkoro No. 6, Semarang
024 - 8316315, 8450651
(024) 8414811
082134525006
LOGIN PELANGGAN
BERITA POPULER

Sertifikasi Industri Hijau akan Digratiskan

01 Nov 2016 10:10:00

Sumber : Website Kementerian Perindustrian dari Media Indonesia

Kementerian Perindustrian mendorong pola industri hijau sebagai upaya mendongkrak ....

Kebijakan Industri Nasional

24 Mei 2017 11:30:55

Visi pembangunan Industri Nasional sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional ....

BBTPPI menyelenggarakan Kegiatan Sosialisasi ISO 9001:2015

16 Agu 2016 13:00:00

Pada tahun 2015, ISO melakukan revisi beberapa standard manajemen atas persyaratan yang ditetapkan. Perkembangan terhadap pengelolaan resiko atas ....

Abstrak Penelitian Tahun 2015

19 Jun 2017 14:06:27

PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI KARTON BOX DENGAN METODE INTEGRASI UPFLOW ANAEROBIC SLUDGE BED REACTOR (UASB) DAN ELEKTROKOAGULASI-FLOTASI

Hanny Vistanty, Aris Mukimin, Novarina Irnaning Handayani

 

ABSTRACT


            Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi kinerja teknologi integrasi Upflow Anaerobic Sludge Bed Reactor (UASB) dengan elektrokoagulasi-flotasi (ECF) sebagai unit pengolah air limbah industri karton box dalam berbagai kondisi operasi. Sebelum diaplikasikan, unit UASB diawali dengan proses aklimatisasi selama 7 hari menggunakan dua jenis substrat, yaitu gula dan pati. Operasional UASB secara kontinyu dilakukan pada berbagai OLR dan HRT konstan (24 jam). Air limbah terproses UASB kemudian dielektroflotasi menggunakan anoda alumunium (Al) dan besi (Fe). Optimalisasi proses ECF dikaji pada berbagai variabel pH dan waktu elektrolisis. Proses UASB dengan susbtrat pati menunjukkan efektivitas aklimatasi yang tinggi dibanding subtrat gula. Kondisi steady-state akan tercapai setelah 6 hari operasional dengan efisiensi penurunan COD 91% dan OLR 25 kg COD/m3 hari. Aplikasi UASB secara kontinyu telah mampu menurunkan COD 94% dengan waktu tinggal 24 jam. Proses ECF mampu menurunkan COD air limbah terolah UASB sekitar 70-81%. Kondisi optimum penurunan COD tercapai pada pH 7,5  untuk anoda Al dan pH 6 atau 9 untuk anoda Fe. Penambahan waktu elektrolisis di atas 10 menit sangat mempengaruhi efektivitas penurunan COD untuk anoda Fe sedangkan anoda Al tidak terjadi penurunan yang signifikan.  Jumlah sludge yang dihasilkan oleh proses ECFsebanyak 4 kg/m3untuk anoda Al dan 5 kg/m3 untuk anoda Fe. Biaya kebutuhan energi berkisar antara 4,5 hingga 18 kWh/m3dan konsumsi elektroda sebanyak 0,17 kg Al/m3 atau 0,515 kg Fe/m3. Integrasi UASB dan ECF berpotensi untuk diaplikasikan sebagai sistem pengolahan air limbah industri karton box yang efektif.

 

KEYWORDS


metode integrasi; elektrokimia; UASB; air limbah industri karton box
 

PEMISAHAN TANIN DAN HCN SECARA EKSTRAKSI DINGIN PADA PENGOLAHAN TEPUNG BUAH MANGROVE UNTUK SUBSTITUSI INDUSTRI PANGAN

Muryati Muryati, Nelfiyanti Nelfiyanti

 

ABSTRACT


            Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kondisi optimal dalam  pemisahan tanin dan HCN pada pengolahan tepung buah tancang (Bruguiera gymnorhiza)  sehingga dihasilkan tepung tancang yang aman digunakan untuk substitusi bahan baku industri pangan. Penelitian ini dilakukan dengan perlakuan pendahuluan yaitu diblansing dengan cara direndam dalam air panas suhu 95-100 0C dengan variabel waktu perendaman  5menit(mnt);  7,5 mnt; 10 mnt dan  15 mnt. Dari masing-masing  waktu blansing  dilanjutkan dengan pengupasan dan tanpa pengupasan (sebagai pembanding) serta perendaman dan tanpa perendaman (pembanding). Ekstraksi dilakukan dengan perendaman dalam air selama 2 hari. Kondisi  penghilangan tanin dan HCN yang optimal dilakukan pada blansing 7,5 menit dilanjutkan pengupasan dan perendaman;  dihasilkan pengujian  kadar tanin 287,43 mg/kg; HCN 8,05 mg/kg dan karbohidrat 79,57 %. Hasil  pengujian tanin, HCN, cemaran  logam dan cemaran mikroba, memenuhi persyaratan mutu tepung singkong sehingga aman untuk bahan makanan.

KEYWORDS


ekstraksi; blansing; tanin; HCN;buah tancang;SNI
 

 

PEMANFAATAN KONSORSIUM MIKROBIA UNTUK MENINGKATKAN KINERJA SISTEM LUMPUR AKTIF

Novarina Irnaning Handayani

 

ABSTRACT


Industri tekstil sebagian besar menggunakan mengolah limbah cair pada instalasi pengolahan air limbah dengan menggunakan sistem fisika, kimia, dan biologi. Sistem biologi yang digunakan biasanya adalah lumpur aktif yang terkadang mengalami gangguan. Tujuan penelitian ini adalah membuat konsorsium mikrobia terpilih yang dapat menaikkan kinerja lumpur aktif yang sedang terganggu, diindikasikan dengan turunnya nilai sludge volume dalam reaktor lumpur aktif serta menurunkan COD air limbah terolah. Terpilih 6 (enam) jenis bakteri non patogen yaitu Bacillus macerans, Bacillus subtilis, Bacillus thuringiensis, Bacillus sp, Kurthia zopfii,dan Pseudomonas stutzeri untuk digabungkan dalam satu konsorsium. Hasil uji antagonisme antar species terpilih menunjukkan tidak munculnya zone penghambatan, sehingga 6 (enam) jenis bakteri tersebut dapat digabungkan menjadi satu kesatuan.Hasil uji coba laboratorium menunjukkan konsorsium yang ditambahkan nutrien berupa 25 gr bekatul dan 50 gram gula per liter air dengan pencapaian sludge volume 30 menit 85% dan setelah diendapkan 24 jam adalah 35% denganpenurunan COD 82% Uji coba lanjutan menunjukkan bahwa konsorsium dalam 6 jenis bakteri ditambah Nitrobacter dan yeast sludge volume 30 menit terbaik mencapai 73% setelah diendapkan 24 jam menjadi 32% dengan penurunan COD mencapai 81%.

 

KEYWORDS


mikrobia; lumpur aktif; sludge volume
 

 

KEMAMPUAN BAKTERI HALOFILIK UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI PEMINDANGAN IKAN

Nilawati Nilawati, Marihati Marihati, Susdawanita Susdawanita, Nanik Indah Setianingsih

 

ABSTRACT


            Industri pemindangan ikan dalam proses pengolahannya  menghasilkan  limbah cair.  Limbah tersebut  langsung dibuang ke sungai, hal ini  dapat menyebabkan pencemaran lingkungan terutama bau akibat dari pembusukan protein.Kapasitasnya 150 m3per-hari untuk 1 industri.   Limbah cair rebusan ikan pindang mengandung beban cemaran yang cukup tinggi, dengan nilai permanganat 15.073 ppm dan BOD 5.380 ppm.Pengolahan limbah cair dalam penelitian ini menggunakan sistem batch dan kontinyu yang diamati setiap hari selama 8 hari (hari ke 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan 7).  Hasil  penelitian menunjukkan penurunan nilai permanganat paling optimal terjadi pada hari ke 6 sebesar 4.266 ppm atau penurunannya sebesar 2.401 ppm , atau  36,01 persen untuk sistem batch.  Sistem kontinyu penurunan optimal pada hari ke-3 yaitu 5.906 ppm turun 13,47 persen.Jadi sistem batch lebih efektif daripada sistem kontinyu pada pengolahan limbah pindang dengan bakteri halofilik.  Nilai BOD terjadi penurunan yang signifikan, untuk pengolahan dengan sistem batch  secara keseluruhan nilai BOD sistem batch lebih rendah daripada sistem kontinyu.  Penurunan yang optimal pada hari ke-6menjadi 496 ppm terjadi penurunan sebesar 1.203 ppm atau 70,81 persen, sedangkan sistem kontinyu nilai BOD tidak terjadi penurunan .

KEYWORDS


bakteri halofilik, pengolahan, limbah pindang
 

 

APLIKASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI TAPIOKA DENGAN SISTIM ABR DAN UAF

Djarwanti Djarwanti

 

ABSTRACT


            Dalam rangka mencegah pencemaran lingkungan beberapa industri tapioka telah menerapkan IPAL dengan sistim biologi anaerob. Pada umumnya pembuatan IPAL ini tidak dilandasi kajian faktor-faktor yang mempengaruhi dalam disain reaktor,  sehingga  pemilihan jenis reaktor menjadi kurang tepat.

Kajian ini bertujuan  membandingkan kelayakan teknis dan kelayakan ekonomis penerapan pengolahan air limbah tapioka dengan sistem ABR (Anaerobic Baffled Reactor) dan sistem UAF (Upflow Anaerobic Filter). Sistim ABR telah diterapkan di Sentra Sekalong dan sistim UAF diterapkan di Sentra Margoyoso, Jawa Tengah

Data yang digunakan untuk penelitian bersumber pada hasil penelitian dan penerapan prototipe IPAL industri tapioka di sentra Sekalong dan sentra Margoyoso.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem UAF layak menggantikan sistem ABR dalam pengolahan air limbah industri tapioka ditinjau dari segi teknis maupun ekonomis. Waktu tinggal proses degradasi bahan organik didalam sistim UAF lebih pendek sehingga volume bangunan lebih kecil, kebutuhan lahanpun menjadi lebih kecil. Untuk kapasitas 20 m3/hari biaya konstruksi sistem UAF lebih murah 47,77% dibanding sistem konvensional menggunakan ABR.

KEYWORDS


air limbah tapioka; ABR; UAF
 

 

PEMISAHAN TANIN DAN HCN SECARA EKSTRAKSI DINGIN PADA PENGOLAHAN TEPUNG BUAH MANGROVE UNTUK SUBSTITUSI INDUSTRI PANGAN

Muryati Muryati, Nelfiyanti Nelfiyanti

 

ABSTRACT


            Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kondisi optimal dalam  pemisahan tanin dan HCN pada pengolahan tepung buah tancang (Bruguiera gymnorhiza)  sehingga dihasilkan tepung tancang yang aman digunakan untuk substitusi bahan baku industri pangan. Penelitian ini dilakukan dengan perlakuan pendahuluan yaitu diblansing dengan cara direndam dalam air panas suhu 95-100 0C dengan variabel waktu perendaman  5menit(mnt);  7,5 mnt; 10 mnt dan  15 mnt. Dari masing-masing  waktu blansing  dilanjutkan dengan pengupasan dan tanpa pengupasan (sebagai pembanding) serta perendaman dan tanpa perendaman (pembanding). Ekstraksi dilakukan dengan perendaman dalam air selama 2 hari. Kondisi  penghilangan tanin dan HCN yang optimal dilakukan pada blansing 7,5 menit dilanjutkan pengupasan dan perendaman;  dihasilkan pengujian  kadar tanin 287,43 mg/kg; HCN 8,05 mg/kg dan karbohidrat 79,57 %. Hasil  pengujian tanin, HCN, cemaran  logam dan cemaran mikroba, memenuhi persyaratan mutu tepung singkong sehingga aman untuk bahan makanan.

 

KEYWORDS


ekstraksi; blansing; tanin; HCN; buah tancang; SNI
 

 

PENGEMBANGAN REAKTOR FOTOKATALITIK ROTATING DRUM UNTUK PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI TEKSTIL

Cholid Syahroni, Djarwanti Djarwanti

 

ABSTRACT


Reaksi oksidasi fotokatalitik memiliki potensi untuk mendegradasi senyawa organik hingga tingkat mineralisasi, sehingga tidak meninggalkan residu (sludge). Penelitian ini bertujuan membuat reaktor fotokatalitik rotating drum dan mengaplikasikan pada industri tekstil. Langkah percobaan meliputi pembuatan katalis TiO2 secara anodizing serta karakterisasi dengan XRD dan SEM, pembuatan reaktor fotokatalitik  rotating drum dan uji coba degradasi air limbah industri tekstil. Proses anodizing dilakukan dengan bias potensial sebesar 40 volt selama 2 jam menggunakan elektrolit etilen glikol yang mengandung amonium fluorida dan air. Uji karakterisasi secara XRD dan SEM menunjukkan bahwa struktur kristal TiO2 adalah anatase dengan ukuran kristalit 8–19 nm. Bentuk kristal nanotube, dengan diameter 30–110 nm. Hasil uji coba menunjukkan bahwa  degradasi secara fotokatalitik dengan penambahan H2O2 0,15% terhadap air limbah bisa menurunkan COD 72,12% dalam waktu 2 jam. 

KEYWORDS


fotokatalitik; TiO2; rotating drum
 

 

PENGOLAHAN AIR LIMBAH KADAR GARAM TINGGI DENGAN SISTEM LUMPUR AKTIF

Nanik Indah Setianingsih, Danny Widyakusuma Hermawan, Nilawati Nilawati

 

ABSTRACT


Air limbah perebusan dari industri kacang garing masih menjadi permasalahan karena mengandung garam yang tinggi. Pada kegiatan penelitian ini dilakukan pengolahan air limbah tersebut dengan sistem lumpur aktif dengan memanfaatkan mikroba yang sudah teradaptasi dengan kadar garam tinggi berasal dari bak equalisasi air limbah tersebut. Percobaan penelitian pengolahan limbah dilakukan dengan dua kondisi yaitu kadar MLVSS (Mixed Liquour Volatile Suspended Solid) awal 1000 mg/L dan 2000 mg/L, pengamatan sampel dilakukan setiap 24 jam selama lima hari. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat penurunan nilai BOD dan permanganat pada sampel air limbah namun tidak terjadi penurunan untuk parameter nilai klorida. Penurunan nilai BOD adalah sebesar 89,89% dengan perlakuan MLVSS 1000 mg/L dan 91,01 % untuk perlakuan MLVSS 2000 mg/L. Kondisi optimal pada sistem lumpur aktif belum tercapai yang ditunjukkan dari nilai sludge volume masih kurang dari 30%. Sampel hasil pengolahan belum dapat memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan dengan nilai BOD 352,2 mg/L, permanganat 213,4 mg/L dan klorida 8347 mg/L.

KEYWORDS


air limbah; kadar garam tinggi; lumpur aktif
 

 

EXPLORATION OF BARRIERS IN ACHIEVING PROACTIVE ENVIRONMENTAL STRATEGIES IN A NATURAL RUBBER INDUSTRY : A CASE STUDY

Syarifa Arum Kusumastuti, Suprihatin Suprihatin, Nastiti Siswi Indrasti

 

ABSTRACT


As the evolving of environmental issues over time, the development of environmental management approaches in industries began to shift to the prevention of pollution to reduce environmental impact. However, in practice, many obstacles encountered during the environmental management change to be more proactive. This study aims to explore the barriers of achieving the proactive environmental strategy in a rubber processing industry. Used a case study approach in a natural rubber processing factory, the data was collected through interviews with experts and sources as well as observation in the field. This study shows main barriers that faced by the company consist of financial issue, human resources, communities’ pressure, technological change and communication with environmental experts. The results of this study suggest conducting cooperation with research institutions or environmental experts especially for skills that cannot be controlled by the manager or employees in the company. 

KEYWORDS


proactive environmental strategy; barriers; natural rubber industry
 

 

INVENTORI PENCEMARAN UDARA PARAMETER NON-METHANE HIDROKARBON (NMHC) DI KABUPATEN / KOTA PROPINSI JAWA TENGAH

Ikha Rasti Julia Sari, Januar Arif Fatkhurrahman

 

ABSTRACT


Laju pertumbuhan industri, transportasi dan aktivitas domestik menyebabkan konsumsi hidrokarbon secara global sebagai bakar mengalami kenaikan tiap tahun. Diperkirakan konsumsi hidrokarbon global di tahun 2019 mencapai 96 juta barel per hari. Hidrokarbon yang dipersyaratkan dalam Peraturan Pemerintah No. 41/1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara adalah sebagai NMHC (Non Methane Hidrocarbon). Konsentrasi NMHC lebih ditujukan untuk membatasi fungsinya sebagai senyawa prekursor ozon. Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Tengah selama 3 tahun terakhir telah melaksanakan pemantauan rutin udara ambien di 35 kota dan kabupaten di Jawa Tengah. Inventori NMHC ini untuk melihat korelasi pencemar dengan sumber penghasil emisi yang dibedakan atas lokasi yang mewakili pemukiman, industri dan lalu lintas. Hasil analisis menunjukkan paparan konsentrasi NMHC di industri, mempunyai kecenderungan lebih tinggi dibandingkan NMHC di wilayah pemukiman maupun padat lalu lintas.

KEYWORDS


hidrokarbon;NMHC; Jawa Tengah
 

 

KAJIAN POTENSI TEKNOLOGI MICROBIAL ELECTROSYNTHESIS CELL UNTUK SINTESIS SENYAWA ORGANIK (C1 - C5) DARI GAS KARBONDIOKSIDA

Rustiana Yuliasni

 

ABSTRACT


Karbon dioksida dapat direduksi menjadi etanol dan senyawa organik lainnya seperti asetat  dengan cara mengaplikasikan energi listrik dan dengan bantuan bakteri elektroaktif sebagai katalis, suatu teknologi yang dinamakan sebagai Microbial Electrosynthesis Cell (MES). Teknologi ini menjadi sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut  karena merupakan upaya  untuk menyimpan energi listrik dari sumber  energi terbarukan seperti  energi panas matahari dan angin, sebagai upaya untuk mereduksi gas CO2dan  sebagai salah satu alternatif teknologi dalam produksi bahan bakar ramah lingkungan (biofuel).  Walaupun demikian, teknologi ini masih tergolong baru,dan penelitian yang ada masih  dalam skala laboratorium karena adanya hambatan-hambatan  untuk aplikasi  teknologi ini dalam skala pilot plant. Oleh karena itu, di dalam kajian iniakan menitik beratkan pada investigasi  secara kuantitatif dengan cara mereview  penelitian-penelitian yang sudah dilakukan selama kurun waktu 10 tahun ini, sehingga dapat dijadikan referensi dalam pengembangan teknologi ini untuk skala yang lebih besar nantinya.

KEYWORDS


Bioelektrokimia; karbondioksida; asetat; etanol; elektrosintesis
 

 

KAJIAN PENERAPAN PRODUKSI BERSIH DI INDUSTRI TAHU DI DESA JIMBARAN, BANDUNGAN, JAWA TENGAH

Silvy Djayanti

 

ABSTRACT


Peran industri kecil di beberapa wilayah Kabupaten Semarang sangat penting dalam menunjang perekonomian, khususnya di sekitar lokasi industri tersebut. Salah satu industri kecil yang memiliki potensi berkembang adalah industri tahu. Di Jawa tengah ada sekitar 500 industri tahu, yang sampai saat ini masih terus mengembangkan kapasitas produksinya. Industri tahu adalah salah satu industri kecil yang berpotensi menyebabkan masalah lingkungan. Hampir seluruh industri kecil, terutama industri tahu, sebagian besar tidak memiliki instalasi pemanfaatan limbah dan pengolahan limbah, karena dibutuhkan investasi yang besar untuk membangun unit tersebut. Dengan melihat masalah tersebut, pendekatan yang dapat menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan cara menerapkan produksi bersih. Kajian penerapan teknologi bersih ini dilakukan dengan metode quick scanning pada setiap tahapan proses produksi. Proses  produksi  tahu terdiri  dari  pemilihan kedelai, penimbangan kedelai, perendaman, pencucian, penggilingan, ekstraksi, penyaringan, pemasakan, penggumpalan, pemisahan whey, pembungkusan, pengepresan, pemasakan, dan pengemasan. Pada proses pembuatan tahu di industri ini memiliki perbedaan dari pembuatan tahu di Industri tahu lain, yaitu terdapat penambahan garam dan bawang putih untuk menambah sedap produk tahu. Hasil kajian penerapan produksi bersih di industri tahu adalah good house keeping, recycle, reduce dan reuse. Berdasarkan beberapa kriteria kelayakan, alternatif penerapan produksi bersih untuk industri ini berupa modifikasi tungku yang dilengkapi dengan cerobong asap, modifikasi alat penyaringan dengan mesin, dan pembangunan instalasi digester untuk penghasil biogas. Kesimpulan kajian ini industri tahu ini belum mengenal produksi bersih. Manfaat yang diperoleh dari penerapan produksi bersih berupa penghematan bahan bakar, peningkatan rendemen filtrat tahu, dan kebersihan lingkungan.

KEYWORDS


Produksi bersih; industri tahu; Quick Scanning